Mid Summer Story...
Author : Jingga8
Main Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Genre : Romance
Rating : T
Chaptered
Chapter 12
Revenge..
Di sebuah caffetaria, seorang
Ahjussi tengah berbincang sambil minum kopi dengan seorang gadis yang dari
penampilannya seperti seorang bintang. Ya.. dia Han Minjung dan seorang
produser program talk show yang beberapa hari lalu menyebarkan issue miring
tentang SNSD dan CNBLUE.
"Ahjussi.. kamsahamnida..
telah membantuku meski kau tahu bahwa semua ini konyol dan tak masuk akal. Aku
berjanji, akan membalasmu suatu hari nanti."
Ucap perempuan itu sambil
setengah membungkukkan badannya. Laki-laki itu tampak datar sambil sesekali
menyeruput kopi panasnya. Tatapannya dingin membuat siapapun tak dapat menebak
isi pikirannya.
"Aku tidak melakukan ini
untukmu, Minjung ah.. semua ini kulakukan untuk diriku sendiri." Pria itu
lantas kembali meneguk kopinya.
"Aku tahu. kau pasti akan
membantuku membuat keadilan untuk eonnie ku. Setidaknya langkah pertamaku
sukses. Tak di duga, tanpa harus bekerja lebih keras, ternyata akan semudah ini
membunuh Jung Yonghwa. Kita lihat saja, hidup seperti apa yang akan dia miliki
saat dia kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya. Hhm.. kariernya dan juga
gadisnya." Han Minjung tersenyum sinis. Kali ini sinar matanya lebih
menakutkan dibanding saat terakhir kali menatap Joohyun di acara talk show
waktu itu.
Flash back :
14 Februari 2004
Tiba-tiba Yonghwa dikejutkan
dengan kemunculan seorang gadis di tengah lapangan sekolahnya. Gadis itu
membawa sebuah gitar yang di hiasi pita berwarna biru, juga seikat mawar yang
terangkai dengan cantik di tangannya. Yang lebih mengejutkan adalah, selain
gadis itu, di belakangnya telah berkerumun sekelompok gadis berseragam SMA yang
berbeda dengan seragam SMA miliknya sambil membawa spanduk-spanduk bertulisan ‘Saranghae’ ‘Go out with me.. Jung Yonghwa!!’
Dan tentunya gadis-gadis itu memampang spanduk-spanduk itu sambil berteriak
histeris. Tentu saja, Yonghwa terperanjak tak terkira karena pemandangan itu. 'Apa-apaan ini?' Bisik hatinya.
Kemudian sang gadis mulai memetik
gitarnya lalu sebuah lagu cantik nan romantis dia nyanyikan. Suaranya merdu.
Lembut.. selembut raut wajahnya. Untuk sesaat Yonghwa terpaku. Terpana tak
percaya dengan apa yg dia saksikan. Usai menyanyikan lagu, gadis itu lalu
mendekati Yonghwa. Betapa terkejutnya Yonghwa kala gadis itu yang tak lain
adalah teman sekelas Yonghwa saat duduk di bangku SMP, Han Minhye mengajukan
sebuah pertanyaan. Tangan kanannya memegang gitar berpita biru yang baru saja
dia mainkan, dan tangan kirinya memegang rangkaian mawar merah. Lalu gadis itu
bertanya.
"Yonghwa ah.. mian.. sepagi
ini mengagetkanmu. Hari ini... aku hanya mencoba keberuntunganku saja. Saat hari
pertamaku masuk SMP, aku melihatmu sedang berdiri di tangga sekolah. Kau
terlihat keren dengan head set yang selalu terpasang di telingamu. Tak sengaja,
saat aku melewatimu, aku mendengar suaramu bersenandung lagu yang mungkin
sedang kau dengarkan lewat mp3 playermu. Aku merasa seperti sedang mendengar
suara malaikat. Sejak saat itu, setiap hari aku memperhatikanmu dan mulai
menyukaimu. Jadi..."
Gadis itu berdehem memastikan tenggorokannya
bersih dan bisa mengeluarkan suara dengan jernih mengingat betapa pentingnya
kata-kata yang akan dia katakan.
"Yong hwa ah... berkencanlah
denganku! Bila kau menerimanya, maka ambilah bunga ini. Tapi bila kau
menolakku, maka ambilah gitar ini untukmu. Setidaknya, kau menerima benda
paling kusukai dalam hidupku meski kau tidak bisa menerima perasaanku."
Benar-benar penuh percaya diri
gadis itu. Seolah Yonghwa merasakan hal yang sama dengannya. Yonghwa yang
benar-benar terkejut hanya bisa terpaku. Matanya membulat dan bibirnya setengah
terbuka sebelum akhirnya dia mengeluarkan kata-kata.
"I.. igae mwo ya? Han
Minhye, apa-apaan ini? Kau gila yah?" Yonghwa masih tak menganggap serius
kelakuan Minhye saat itu. Dia bahkan mulai risih, tidak nyaman pada sorotan
mata gadis-gadis 'supporter' nya Minhye yang sejak awal tertuju padanya.
"Wae.. bukankah kata-kataku
cukup jelas? Yonghwa ah.. kau hanya perlu memilih dua hal ini. Buatku tak
masalah yang mana pun yang akan kau pilih. Kedua hal ini adalah ketulusanku.
Jebbal.. aku sudah menunggunya, Yonghwa ah.."
Kali ini Yonghwa benar-benar
bingung dibuatnya. Sejenak dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dan
akhirnya...
"Mianhae... Minhye ah.. tapi
semua ini terlalu tiba-tiba. Kita bahkan tidak bertemu untuk waktu yang lama.
Dan saat ini kau datang dengan semua ini... hhmm... aku benar-benar tidak tahu
harus mengatakan apa." Mendengarnya Minhye hanya terpaku menatap Yonghwa.
"Minhye ah.. jinjja
mianhae.. aku tidak bisa menerima kedua hal ini. Dalam ke-tiba-tibaan ini mana
mungkin aku bisa memutuskan begitu saja? Dan lagi... aku benar-benar tidak
nyaman diperlakukan seperti ini di depan banyak orang. Minhye ah.. aku hanya
ingin lulus sekolah, lalu kuliah, dan menjadi orang yang bisa di banggakan oleh
kedua orang tuaku. Jadi aku minta maaf, hatimu ataupun gitarmu, aku tak pantas
menerimanya. Tapi terima kasih untuk ketulusan dan perhatianmu padaku selama
ini. Untukku, kau tetap seorang chingu, Minhye ah.."
Wajah Minhye memerah. Tiba-tiba
bulir-bulir air mengalir di pipinya membuat Yonghwa semakin merasa tidak enak.
"Minhye ah.. uljima,
jebbal.. bila orang melihatnya, mereka pikir aku sedang menyakitimu."
Yonghwa kembali menatap sekelilingnya. Dia sudah benar-benar ingin lari dari
tatapan anak-anak seisi sekolah yang sedang lekat menatapnya dari pinggir
lapangan.
"Ne.. ahraseo! Baiklah..
maafkan aku karena sudah mengganggumu dan membuatmu malu. Tolong jangan
membenciku, Yonghwa ah.. pura-pura lah bahwa semua ini tak pernah terjadi.
" Minhye menyeka air matanya. Mengalungkan gitarnya di punggungnya, lalu
beranjak pergi menerobos kerumunan anak-anak yang tengah asyik menyaksikan
petunjukannya.
Flash back end..
"Tapi ngomong-ngomong,
bagaimana kondisi ibumu saat ini? Apa dia masih tak mengenalimu?" Laki-laki
itu bertanya. Kali ini ekspresi penuh kebencian Minjung berubah jadi kesedihan.
"Uri eomma, sejak kecelakaan
itu, tak ubahnya seperti mayat hidup. Dalam ingatannya dia hanya memiliki
Minhye eonnie. Yah... kecelakaan itu bukan hanya merenggut kakak ku, tapi juga
ibuku dan hidupku. Betapa duniaku sudah berubah menjadi begitu mengerikan.
Andai saja pagi itu eonnie tak melakukan kebodohan itu... anieo.. andai saja
Jung Yonghwa tidak sesombong itu mempermalukan eonnie ku di depan banyak orang,
eonnie ku tidak harus kehilangan akal sehatnya dan menyadari bahwa palang pintu
kereta api itu sudah tertutup. Akupun tak harus hidup seperti ini."
Air matanya mencair. Kesakitan
dan kesepian jelas tergambar di wajah Minjung. Begitupun wajah ahjussi itu.
Mata dinginnya berubah seiring rekaman kepedihan terulang lagi dalam benaknya.
"Hari itu adalah tepat 1
minggu sebelum aku resmi menikahi Eomma mu. Seharusnya, saat itu adalah saat
yang paling membahagiakan dalan hidupku karena akhirnya aku bisa menikahi
wanita yang telah kucintai seumur hidupku. Bahkan ketika Appa mu menikahi Eomma
mu, dan memiliki Minhye juga dirimu, aku masih berharap bahwa suatu hari nanti
takdir akan bermurah hati padaku. Tapi tiba-tiba semua kebahagiaanku sirna
seiring kepergian Minhye. Kau benar, setelah kejadian itu, dalam memori ibumu
hanya ada Minhye. Aku benar-benar sudah kehilangan segalanya." Pria itu mendesah sebelum kembali meneguk
kopinya.
Entah apa yang ada di kepala Han
Minjung, sehingga dia meletakkan Yonghwa di kursi terdakwa. Dalam hal ini
kenapa harus Yonghwa yang di hukum. Dia sendiri tak tahu pasti alasan dia
melakukan ini. Menurutnya, bila saat itu Yonghwa mau menerima salah satu saja
dari apa yang di tawarkan kakaknya, cerita nya akan lain. Dia pikir Yonghwa
terlalu angkuh dengan menolak keduanya, sehingga kakaknya harus tewas secara
tragis tertabrak kereta api. Menurut saksi mata, Minhye hanya melewati begitu
saja palang pintu kereta api yang sudah tertutup dengan tatapan kosong. Lalu
tiba-tiba kereta api datang dan langsung mengantam tubuh Minhye.
Pertanyaannya adalah, kenapa bos
SM juga harus ikut sibuk dengan masalah ini? Ialah Han Minjung, yang membuat
rencananya sedemikian matang. Hingga foto ketika Yonghwa berciuman dengan
Joohyun sampai ke tangan CEO SM Ent dan mengancam akan menyebarkan foto itu
bila dia tidak bertindak tegas untuk memisahkan Joohyun dan Yonghwa.
Tentu saja, SM akan bertindak
sesuatu yang akan menyelamatkan girls band andalan manajemennya. Baik SM maupun
FNC tidak akan membiarkan sebuah skandal merusak reputasi kuda hitam dalam
agencinya. Bukan karena mereka tidak berperasan, tapi karena mereka ingin yang
terbaik untuk Joohyun dan juga Yonghwa. Bila di masa depan anak-anak itu
ditakdirkan untuk bersatu, mereka pun tidak akan mengahalanginya. Tapi dimasa-masa
promo album seperti ini, skandal bukanlah ide yang baik. Terlebih foto yang
dijadikan Minjung untuk mengancam SM adalah sesuatu yang tidak pantas dilihat
publik. Bila sampai publik melihatnya, maka perjuangan Joohyun dan Yonghwa
sejak awal akan menjadi tidak berarti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar