Minggu, 18 Januari 2015

Mid Summer Story Chapter 12



Mid Summer Story...


Author           : Jingga8
Main Cast      : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Genre             : Romance
Rating            : T

Chaptered



Chapter 12

Revenge..

Di sebuah caffetaria, seorang Ahjussi tengah berbincang sambil minum kopi dengan seorang gadis yang dari penampilannya seperti seorang bintang. Ya.. dia Han Minjung dan seorang produser program talk show yang beberapa hari lalu menyebarkan issue miring tentang SNSD dan CNBLUE.

"Ahjussi.. kamsahamnida.. telah membantuku meski kau tahu bahwa semua ini konyol dan tak masuk akal. Aku berjanji, akan membalasmu suatu hari nanti."

Ucap perempuan itu sambil setengah membungkukkan badannya. Laki-laki itu tampak datar sambil sesekali menyeruput kopi panasnya. Tatapannya dingin membuat siapapun tak dapat menebak isi pikirannya.

"Aku tidak melakukan ini untukmu, Minjung ah.. semua ini kulakukan untuk diriku sendiri." Pria itu lantas kembali meneguk kopinya.

"Aku tahu. kau pasti akan membantuku membuat keadilan untuk eonnie ku. Setidaknya langkah pertamaku sukses. Tak di duga, tanpa harus bekerja lebih keras, ternyata akan semudah ini membunuh Jung Yonghwa. Kita lihat saja, hidup seperti apa yang akan dia miliki saat dia kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya. Hhm.. kariernya dan juga gadisnya." Han Minjung tersenyum sinis. Kali ini sinar matanya lebih menakutkan dibanding saat terakhir kali menatap Joohyun di acara talk show waktu itu.

Flash back :

14 Februari 2004

Tiba-tiba Yonghwa dikejutkan dengan kemunculan seorang gadis di tengah lapangan sekolahnya. Gadis itu membawa sebuah gitar yang di hiasi pita berwarna biru, juga seikat mawar yang terangkai dengan cantik di tangannya. Yang lebih mengejutkan adalah, selain gadis itu, di belakangnya telah berkerumun sekelompok gadis berseragam SMA yang berbeda dengan seragam SMA miliknya sambil membawa spanduk-spanduk bertulisan ‘Saranghae’ ‘Go out with me.. Jung Yonghwa!!’ Dan tentunya gadis-gadis itu memampang spanduk-spanduk itu sambil berteriak histeris. Tentu saja, Yonghwa terperanjak tak terkira karena pemandangan itu. 'Apa-apaan ini?' Bisik hatinya.

Kemudian sang gadis mulai memetik gitarnya lalu sebuah lagu cantik nan romantis dia nyanyikan. Suaranya merdu. Lembut.. selembut raut wajahnya. Untuk sesaat Yonghwa terpaku. Terpana tak percaya dengan apa yg dia saksikan. Usai menyanyikan lagu, gadis itu lalu mendekati Yonghwa. Betapa terkejutnya Yonghwa kala gadis itu yang tak lain adalah teman sekelas Yonghwa saat duduk di bangku SMP, Han Minhye mengajukan sebuah pertanyaan. Tangan kanannya memegang gitar berpita biru yang baru saja dia mainkan, dan tangan kirinya memegang rangkaian mawar merah. Lalu gadis itu bertanya.

"Yonghwa ah.. mian.. sepagi ini mengagetkanmu. Hari ini... aku hanya mencoba keberuntunganku saja. Saat hari pertamaku masuk SMP, aku melihatmu sedang berdiri di tangga sekolah. Kau terlihat keren dengan head set yang selalu terpasang di telingamu. Tak sengaja, saat aku melewatimu, aku mendengar suaramu bersenandung lagu yang mungkin sedang kau dengarkan lewat mp3 playermu. Aku merasa seperti sedang mendengar suara malaikat. Sejak saat itu, setiap hari aku memperhatikanmu dan mulai menyukaimu. Jadi..."

Gadis itu berdehem memastikan tenggorokannya bersih dan bisa mengeluarkan suara dengan jernih mengingat betapa pentingnya kata-kata yang akan dia katakan.

"Yong hwa ah... berkencanlah denganku! Bila kau menerimanya, maka ambilah bunga ini. Tapi bila kau menolakku, maka ambilah gitar ini untukmu. Setidaknya, kau menerima benda paling kusukai dalam hidupku meski kau tidak bisa menerima perasaanku."

Benar-benar penuh percaya diri gadis itu. Seolah Yonghwa merasakan hal yang sama dengannya. Yonghwa yang benar-benar terkejut hanya bisa terpaku. Matanya membulat dan bibirnya setengah terbuka sebelum akhirnya dia mengeluarkan kata-kata.

"I.. igae mwo ya? Han Minhye, apa-apaan ini? Kau gila yah?" Yonghwa masih tak menganggap serius kelakuan Minhye saat itu. Dia bahkan mulai risih, tidak nyaman pada sorotan mata gadis-gadis 'supporter' nya Minhye yang sejak awal tertuju padanya.

"Wae.. bukankah kata-kataku cukup jelas? Yonghwa ah.. kau hanya perlu memilih dua hal ini. Buatku tak masalah yang mana pun yang akan kau pilih. Kedua hal ini adalah ketulusanku. Jebbal.. aku sudah menunggunya, Yonghwa ah.."

Kali ini Yonghwa benar-benar bingung dibuatnya. Sejenak dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dan akhirnya...

"Mianhae... Minhye ah.. tapi semua ini terlalu tiba-tiba. Kita bahkan tidak bertemu untuk waktu yang lama. Dan saat ini kau datang dengan semua ini... hhmm... aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa." Mendengarnya Minhye hanya terpaku menatap Yonghwa.

"Minhye ah.. jinjja mianhae.. aku tidak bisa menerima kedua hal ini. Dalam ke-tiba-tibaan ini mana mungkin aku bisa memutuskan begitu saja? Dan lagi... aku benar-benar tidak nyaman diperlakukan seperti ini di depan banyak orang. Minhye ah.. aku hanya ingin lulus sekolah, lalu kuliah, dan menjadi orang yang bisa di banggakan oleh kedua orang tuaku. Jadi aku minta maaf, hatimu ataupun gitarmu, aku tak pantas menerimanya. Tapi terima kasih untuk ketulusan dan perhatianmu padaku selama ini. Untukku, kau tetap seorang chingu, Minhye ah.."

Wajah Minhye memerah. Tiba-tiba bulir-bulir air mengalir di pipinya membuat Yonghwa semakin merasa tidak enak.

"Minhye ah.. uljima, jebbal.. bila orang melihatnya, mereka pikir aku sedang menyakitimu." Yonghwa kembali menatap sekelilingnya. Dia sudah benar-benar ingin lari dari tatapan anak-anak seisi sekolah yang sedang lekat menatapnya dari pinggir lapangan.

"Ne.. ahraseo! Baiklah.. maafkan aku karena sudah mengganggumu dan membuatmu malu. Tolong jangan membenciku, Yonghwa ah.. pura-pura lah bahwa semua ini tak pernah terjadi. " Minhye menyeka air matanya. Mengalungkan gitarnya di punggungnya, lalu beranjak pergi menerobos kerumunan anak-anak yang tengah asyik menyaksikan petunjukannya.

Flash back end..

"Tapi ngomong-ngomong, bagaimana kondisi ibumu saat ini? Apa dia masih tak mengenalimu?" Laki-laki itu bertanya. Kali ini ekspresi penuh kebencian Minjung berubah jadi kesedihan.

"Uri eomma, sejak kecelakaan itu, tak ubahnya seperti mayat hidup. Dalam ingatannya dia hanya memiliki Minhye eonnie. Yah... kecelakaan itu bukan hanya merenggut kakak ku, tapi juga ibuku dan hidupku. Betapa duniaku sudah berubah menjadi begitu mengerikan. Andai saja pagi itu eonnie tak melakukan kebodohan itu... anieo.. andai saja Jung Yonghwa tidak sesombong itu mempermalukan eonnie ku di depan banyak orang, eonnie ku tidak harus kehilangan akal sehatnya dan menyadari bahwa palang pintu kereta api itu sudah tertutup. Akupun tak harus hidup seperti ini."

Air matanya mencair. Kesakitan dan kesepian jelas tergambar di wajah Minjung. Begitupun wajah ahjussi itu. Mata dinginnya berubah seiring rekaman kepedihan terulang lagi dalam benaknya.

"Hari itu adalah tepat 1 minggu sebelum aku resmi menikahi Eomma mu. Seharusnya, saat itu adalah saat yang paling membahagiakan dalan hidupku karena akhirnya aku bisa menikahi wanita yang telah kucintai seumur hidupku. Bahkan ketika Appa mu menikahi Eomma mu, dan memiliki Minhye juga dirimu, aku masih berharap bahwa suatu hari nanti takdir akan bermurah hati padaku. Tapi tiba-tiba semua kebahagiaanku sirna seiring kepergian Minhye. Kau benar, setelah kejadian itu, dalam memori ibumu hanya ada Minhye. Aku benar-benar sudah kehilangan segalanya."  Pria itu mendesah sebelum kembali meneguk kopinya.

Entah apa yang ada di kepala Han Minjung, sehingga dia meletakkan Yonghwa di kursi terdakwa. Dalam hal ini kenapa harus Yonghwa yang di hukum. Dia sendiri tak tahu pasti alasan dia melakukan ini. Menurutnya, bila saat itu Yonghwa mau menerima salah satu saja dari apa yang di tawarkan kakaknya, cerita nya akan lain. Dia pikir Yonghwa terlalu angkuh dengan menolak keduanya, sehingga kakaknya harus tewas secara tragis tertabrak kereta api. Menurut saksi mata, Minhye hanya melewati begitu saja palang pintu kereta api yang sudah tertutup dengan tatapan kosong. Lalu tiba-tiba kereta api datang dan langsung mengantam tubuh Minhye.

Pertanyaannya adalah, kenapa bos SM juga harus ikut sibuk dengan masalah ini? Ialah Han Minjung, yang membuat rencananya sedemikian matang. Hingga foto ketika Yonghwa berciuman dengan Joohyun sampai ke tangan CEO SM Ent dan mengancam akan menyebarkan foto itu bila dia tidak bertindak tegas untuk memisahkan Joohyun dan Yonghwa.

Tentu saja, SM akan bertindak sesuatu yang akan menyelamatkan girls band andalan manajemennya. Baik SM maupun FNC tidak akan membiarkan sebuah skandal merusak reputasi kuda hitam dalam agencinya. Bukan karena mereka tidak berperasan, tapi karena mereka ingin yang terbaik untuk Joohyun dan juga Yonghwa. Bila di masa depan anak-anak itu ditakdirkan untuk bersatu, mereka pun tidak akan mengahalanginya. Tapi dimasa-masa promo album seperti ini, skandal bukanlah ide yang baik. Terlebih foto yang dijadikan Minjung untuk mengancam SM adalah sesuatu yang tidak pantas dilihat publik. Bila sampai publik melihatnya, maka perjuangan Joohyun dan Yonghwa sejak awal akan menjadi tidak berarti.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar