Rabu, 21 Januari 2015

Mid Summer Story Chapter 18


Mid Summer Story...


Author           : Jingga8
Main Cast      : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Genre             : Romance
Rating            : T

Chaptered



Chapter 18

Would You Marry Me, Angel….

Senja itu, angin bertiup lembut. Taman kecil berhiaskan white lily dan mawar putih ini akan menjadi saksi ketika perjalan panjang mereka berakhir dengan sebuah janji suci untuk menjalani babak baru perjalanan mereka yang lain. Akhirnya, setelah badai pergi, langit pun membiru menampakan pelangi. Ya… hari ini… Yonghwa akan menggenggam tangan Joohyun-nya dan tak akan pernah melepasnya lagi untuk selamanya. Tiba saatnya cinta itu berlabuh dan menetap dihati pemiliknya. Hanya untuk Joohyun-nya. Selamanya…

Pernikahan mereka di gelar sederhana dengan dihadiri orang-orang terdekat saja. Hanya SNSD, CNBLUE, keluarga inti keduanya, sahabat dekat dan  beberapa rekan satu agency, manager keduanya dan owner dari agency tempat mereka bekerja tentunya. Dengan berbagai syarat, Yonghwa akhirnya di ijinkan untuk menikahi Joohyun 'sekali lagi' yang kali ini dengan pernikahan sebenarnya. Banyak hal positif yang terjadi pasca kecelakaan yang minimpa Seo Joohyun. Dukukangan publik pun meningkat drastis ketika Yongwa dengan sabar dan setia menemani Joohyun selama dia dalam masa perawatan. Terlebih dengan kondisi Joohyun seperti saat ini.

Ya… setelah sadarkan diri, Joohyun mengalami kelumpuhan yang membuatnya tak dapat begerak apalagi berjalan. Dokter mengatakan bahwa kondisi ini merupakan efek dari pendarahan pada otaknya saat kecelakaan itu. Tapi dengan terapi dan rehabilitasi, Joohyun di beri harapan bahwa dirinya bisa sembuh dan beraktifitas normal kembali seperti sebelumnya. Meski kemungkinannya kecil. Situasi yang cukup membuat Joohyun terpukul dan kehilangan semangat hidup. Cobaan demi cobaan sepertinya belum berhenti menempa hidup mereka.

Saat itu tidak terpikir lagi tentang eksistensinya bersama SNSD. Menyadari dirinya bahkan tak mampu bangkit dan duduk sendiri pun sudah menjadi pukulan besar dalam hidupnya. Dan kini, gadis mandiri itu harus bergantung pada bantuan orang lain. Joohyun merasa dunianya sudah berganti. Sinar dirinya telah padam. Dirinya tak lebih dari seorang parasit yang akan bergantung dan menyusahkan banyak orang. Dan di satu senja....

Satu bulan sebelumnya…..

"Hey... baby, are you wake up?" Yonghwa tiba-tiba muncul di balik pintu dan mendapati Hyun-nya sedang terbangun menatap jendela dari tempat tidurnya.

"Hhmm! Wae, Oppa?" Joohyun menoleh kearah Yonghwa tanpa bisa melakukan apa2. Saat ini, hanya gerakan kecil yang mampu dia lakukan. Seperti menoleh, menggerakan jemari dan membolak balikan telapan tangannya. Sisanya, dia membutuhkan bantuan dari orang lain.

"Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu. Lets go... ikut denganku!" Yonghwa berjalan mendekati tempat tidur Joohyun dan bermaksud membantunya bangun dan duduk di kursi rodanya.

"Mwo? Eodie ga?" Joohyun tampak bingung dengan ajakan tiba-tiba ini. Terlebih karena hari telah senja dan sebentar lagi langit akan berganti malam.

"Bimil!! Geuman darawaaa...!!" Yonghwa mengibarkan senyum termanisnya seraya membopong tubuh Joohyun lalu menempatkannya di kursi roda. Tak lupa dia menutup kaki gadisnya dengan selimut.

"Geurae... Kajjaa, My Angel….!!" Dengan penuh semangat, Yonghwa mendorong kursi roda Joohyun keluar dari ruangan itu.

Tidak membutuhkan waktu lama untuknya sampai ditempat yang dia tuju. Tempat itu tepat berada di belakang rumah sakit. Sebuah taman terbuka yang menghadap pantai. Rona jingga mulai tampak dilangit berbalut dengan awan keemasan. Andai saja gadis dihadapannya tidak sedang duduk diatas kursi roda ini, senja ini akan menjadi moment paling sempurna untuknya. Tapi biarlah... betapapun Yonghwa tetap mensyukurinya.

"Here we are....! Eotthae, Joohyun ah? Neomu yippo, geurotji?" Yonghwa dengan bangga menunjukkan tempat itu pada gadisnya.

"Whooaa... jinjja yippojanaa...!" Seketika Joohyun tersihir dengan pesona sunset di hadapannya.

"Apa kau masih ingat, 7 lalu... tepat di hadapan sunset yang sama, kita memulai lagi kisah kita?"

Keduanya kini terduduk mengahadap pantai. Angin laut menyapu wajah mereka dengan lembut dan mengibaskan aroma kerinduan yang sama. Joohyun tersenyum pahit, saat satu persatu kenangan itu hadir dalam benaknya.

"Tentu saja aku mengingatnya, Oppa. Senja itu... tampak sama dengan senja hari ini. Hanya saja, kita berada di tempat yang berbeda. Dan aku kini harus duduk di atas kursi menyedihkan ini." Joohyun menundukkan wajah sendunya. Mendengarnya, Yonghwa lantas bangkit dari duduknya dan kini dia berlutut di hadapan Joohyun.

"Ssshh... sayang... jangan bilang begitu. Mungkin kau benar, kita kini berada di tempat yang berbeda. Dan memang benar bahwa kini kau harus duduk di atas kursi roda ini. But honey.... for me you're still the same. Dimataku kau tetap malaikat dengan pesona tak tergantikan. Kau tetap bintang dengan cahaya paling terang. Seo Joohyun... dimataku tetaplah gadis yang sama. Seseorang tempatku menitipkan mimpi dan kebahagiaanku. Kau... tetap menjadi satu-satunya alasan yang membuatku ingin menjadi lelaki yang baik. Lelaki yang pantas untuk menjadi suamimu, dan ayah untuk anak-anakmu."

Sejenak, hening menjelma. Yonghwa menyentuh wajah malaikatnya dengan lembut. Joohyun hanya menatap Yonghwa-nya dengan tatapan haru penuh tanya. Dan Yonghwa membalas tatapan itu dengan penuh cinta. Kata-kata Yonghwa barusan seperti lulaby yang merdu di telinganya. Hingga dia kehabisan kata untuk diucapkan dan hanya terpaku dan membisu.

"Seo Joohyun, aku tahu... aku bukan lelaki yang sempurna. Selama kita bersama, tidak banyak yang pernah aku lalukan untuk membuat bahagia. Bahkan terakhir kali, aku pergi dengan memberimu bekas luka. Maafkan aku, Joohyun ah. Meski aku menyadari betapa tidak pantasnya aku... Meski aku tahu bahwa kesalahan yang kulakukan padamu itu tak akan termaafkan... Meski aku tahu, seberapa besarnya pun yang aku lakukan untukmu, takan pernah bisa menebus setiap rasa sakit yang kau alami kini... tapi demi Tuhan, Joohyun ah! Aku tetap tidak mampu hidup tanpamu.

Aku tahu, betapa tidak tahu dirinya aku mengatakan ini. Hyun.... seandainya aku mampu mengambil semua penderitaanmu saat ini dan menempatkanku ditempat yang kau duduki kini... Aku rela, Sayang. Aku ingin memberikan kakiku, tanganku, tubuhku dan semua milikku untuk bisa melihatmu kembali tersenyum. "

Kali ini, Yonghwa menatap Joohyun lebih dalam. Seiring air mata yang jatuh dari kedua matanya, Yonghwa ingin Joohyun percaya bahwa saat ini yang dia katakan adalah tulus adanya.

"Geurogae, Seo Joohyun... tolong ijinkan aku menjadi kakimu. Ijinkan aku menjadi tanganmu. Ijinkan aku menjadi tubuhmu. Ijinkan aku berbagi hidupku untuk menjadi bagian dalam hidupmu.

Nae Sarang Bit, Narang gyeoronae julhae?"

Seo Joohyun terdiam dalam keterkejutannya. Tubuhnya memang tak mampu memberi reaksi apapun. Tapi matanya berbicara. Dimata sebening embun itu kini tergenang buliran air yang siap mengalir hanya dalam satu kedipan saja.

"Seo Joohyun... maukah kau berbagi waktu dan sisa hidupmu denganku? Menjadi ibu yang melahirkan anak-anakku? Menjadi sahabat sejatiku yang akan berjalan disisiku mengarungi waktu?"

"Op..paa...!"

"Jebbal... Hyun! Beri aku kesempatan..." Suaranya kian lirih terdengar.

"Oppa... aku... aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Aku...

Oppa, Tuhan tahu betapa bahagianya aku mendengar kata-katamu. Bagaimana tidak? Setiap kata-kata yang kau ucapkan bagaikan mimpi yang jadi kenyataan. Aku memimpikan hari seperti ini akan tiba dan Oppa adalah pangerannya.

Geunyang, Oppa... lihatlah aku sekarang. Aku bukan lagi Joohyun yang dulu kau kenal. Jangankan untuk menemanimu berjalan, menggerakan kakiku pun aku tak bisa. Jangankan melahirkan anak-anak mu, mengangkat tanganku pun aku tak mampu.

Oppa, perjalananmu masih panjang. Jangan sia-siakan sinarmu hanya demi untuk bersamaku. Aku percaya cinta dan ketulusanmu. Tapi... bukan aku, Oppa! Bukan aku yang seharusnya bersamamu." Rasanya seperti teriris, saat Joohyun terpaksa mengatakan kata-kata itu pada lelaki dihadapannya. Ingin sekali dia menjerit sekerasnya meluapkan betapa tidak adilnya hidup ini untuknya.

"Aniya.. Hyun...! Ani!!! Jika bukan kamu lalu siapa? Bila memang ada perempuan lain yang lebih bisa membuatku bahagia, harusnya sudah sejak dulu aku bersamanya. Bila memang ada perempuan yang bisa membuatku berpaling, maka selama 6 bulan ini aku tak harus menderita karena rasa rinduku padamu.

Seo Joohyun, dengarkan aku....

Denganmu, atau tidak dengan siapapun. Menjadi milikmu, atau menjalani sisa waktuku seorang diri. Hanya itu pilihan hidupku.

Geurokhae, jebbal... menikahlah denganku...." Sekali lagi Joohyun menetap lekat wajah Yonghwa. Inin sekali tangannya meraih wajah itu dan mengusap air matanya. Tapi lihatlah… bahkan hal kecil seperti itupun tak mampu dilakukannya.

“Kau akan sangat lelah, Oppa. Apa yang akan kau lakukan dengan gadis menyedihkan sepertiku? Hidup seperti apa yang akan kau jalani dengan menikahi perempuan seperti aku? Aku tidak pernah ingin membagi semua ini dengamu dan merenggut sinarmu dari hidupmu. Seperti halnya dulu kau yang tak ingin menjadi sisi gelap dalam hidupmu, kini aku pun sama. Aku mencintaimu, Oppa… dan menginginkanmu lebih dari apapun. Tuhan tahu itu. Tapi aku tidak akan tega mengikatmu dan menjadi beban bagimu.”

“Seo Joohyun, bahkan hingga kini pun kau masih saja keras kepala. Tsk… terserah apapun yang kau katakan. Aku akan tetap menyeretmu ke pelaminan. Kau tidak bisa melawanku, bukan? Apalagi berlari dariku. And here….” Yonghwa mengeluarkan sebuah kotak kecil berpita biru. Lalu memasangkan cincin yang berada di dalamnya di jari manis Joohyun. Joohyun terperanjak saat cincin itu terpasang dengan cantik di jarinya.

“Oppa…. Igae…”

“Wae? Shiro? Kau tidak ingin memakainya lagi?” Sebetulnya, itu adalah cincin yang sama yang mereka pakai di WGM. Yonghwa menyimpannya mengingat saat itu tidak memungkinkan bagi mereka untuk memakainya. Bisa menjadi scandal besar bila fans melihat cincin itu melingkar di jari mereka.

“Tapi…. Cincin ini kaaan…. Aku yang membelinya, Oppa. Masa kau melamarku dengan cincin yang kubeli sendiri?” Joohyun mengerutkan bibirnya dan wajah inosen itu kembali hadir di sana. Mendengar semua itu, Yonghwa sontak terkekeh. Joohyun-nya… benar-benar…

“Mwo? Yaah… Seo Joohyun.. noel jinjja…!” Dengan senyum bahagianya, Yonghwa kembali menatap lekat mata bidadarinya. Perlahan… dia mulai mendekatkan wajahnya pada gadis dihadapannya. Sebuah kecupan kembali berlabuh dibibirnya. Lembut, hangat, manis, rindu, pilu, haru, bahagia, semua rasa yang sudah selayaknya ada kala itu. Rasanya tak ingin melepasnya. Selamanya Yonghwa ingin menikmati manisnya strawberry lewat bibir ini. Tak akan pernah membiarkannya dimiliki siapapun. Hanya untuknya. Hanya miliknya.

Mentari mulai terbenam, dan Yonghwa masih enggan melepaskan kecupannya dari bibir Joohyun. Kerinduan ini sepertinya tidak akan pernah terbayar meski dia menciumnya sepanjang hidupnya.

“Gomawo, Joohyun… ah! Neomu gomawoseo… ” Dengan lembut, Yonghwa mengusap bibir Joohyun sebelum akhirnya dia mengecupnya lagi.

“Terima kasih untuk apa?” Joohyun menampakkan raut wajah khas nya. Spontan membuat Yonghwa mengerutkan keningnya.

“Untuk…. Menerimaku…” Dengan gugup Yonghwa menjawabnya.

“Seingatku, aku tidak mengatakan iya, Oppa…” Lagi-lagi dengan wajah polosnya Joohyun membuat Yonghwa semakin frustasi.

“Eii?? Seo Joohyun… apa maksudmu?”

“Aku bilang, aku tidak mengatakan iya padamu, Oppa. Jadi untuk apa kau berterima kasih?”

“Y-yaa.. Yakkk… Soe Joohyun!!!! Lalu kenapa kau menciumku barusan?”

“Mwo? Siapa yang menciummu? Bibirmu yang mengahampiri bibirku? Bagaimana bisa itu kau bilang aku yang menciummu?”

“Ya.. ta.. tapi kau membalasnya kan? Kau membalas ciumanku. Dan itu artinya kau setuju…” Yonghwa menjadi gusar dibuatnya. Joohyun menahan tawa sekuatnya.

“Mwo? Ya… Oppa… kau lupa, bahwa kau bukan satu-satunya lelaki yang pernah menciumku. Terakhir kali dalam film ku aku mencium TOP Oppa. Apakah itu berarti aku menyukinya dan menerima cintanya?”

“Eiii? Yaakk… kenapa kau membahas ciumanmu di film dalam situasi ini? Ya Tuhan, Seo Joohyun… kau sedang pamer yah?” Sudah, Joohyun sudah tak tahan lagi. Dia pun akhirnya melepaksan tawanya. Melihat betapa tampak bodohnya Jung Yonghwa dengan kata-katanya.

“Phabo, Jung!!!” Celotehnya.

“Yaa… kau memermainkanku, Seo Joohyun!!! Geurae!! Suka atau tidak suka, kau adalah milikku. Dan aku akan menjadi satu-satu pria yang boleh menciummu. Ahratji?” Joohyun tersenyum dalam sisa tawanya, lalu menganggukkan kepalanya. Yonghwa pun akhirnya ikut tertawa bersamanya.

“Tapi Oppa…. Hhhmm… benarkah hanya cincin ini?” Sekali lagi Joohyun membuat lelaki ini terbelalak.

“Ya Tuhan… aku sudah tahu bahwa kau akan seperti ini. Hhhh…! Ahrasso… ahrasso… here…” Yonghwa mengeluarkan satu kotak lagi dalam saku jaketnya. Kali ini lebih besar dari kotak sebelumnya. Dan kini giliran Joohyun yang membelalakan matanya begitu kotak itu terbuka. Sebuah cincin dengan mata saphire berbentuk hati. Disisi-sisinya melingkar berlian-berlian kecil yang mebuat cincin itu tampak begitu indah. Selain itu juga ada kalung dengan mata dan bentuk yang sama. Joohyun benar-benar tersihir karenanya.

“Eotthae? Jeohwa?” Yonghwa meledeknya.

“Neomu Yippoda… Oppa…” Joohyun tersenyum takjub.

“Tentu saja cantik. Untuk malaikat sepertimu, aku harus memilihkan yang tercantik. Meski aku tahu, didunia ini tidak akan pernah bisa aku temui yang lebih cantik darimu. Kau pantas mendapatkan segalanya, Joohyun ah. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia.” Kali ini, suasana syahdu itu kembali. Yonghwa memakaikan cincin itu di jari manis tangan kanan Joohyun. Lalu menyusul setelahnya dia pasangkan kalung itu di lehernya. Benar-benar terlihat sempurna dimatanya. Joohyun-nya benar-benar cantik memakainya.

“Aku bersedia, Oppa….” Akhirnya… dengan senyum terindahnya, Joohyun mengatakan itu.

“Aishh… Seo Joohyun…!!” Sekali lagi Yonghwa mengecup bibir gadisnya. Tidak sampai disitu, kali ini dia mengangkat tubuh Joohyun dan membawanya ketepi pantai. Dibawah senja temaram, mereka tertawa. Yonghwa membawa tubuh Joohyun dipangkuannya berputar berkali membuat Joohyun berteriak.

Tapi mereka benar-benar bahagia. Mereka sangat bahagia.

I'm telling the world
Here and now
That I'm gonna love you and love you
I take this vow yeeaah
You captured my heart
So long ago
Still there are some critical things
That you should know

Do I give all I am
To be now and forever you man
Do I take you to be
Without question the woman for me
Do I promise you
I Do
Do I promise you
I do, I do

This love has been worth waiting for
Cause love doesn't matter to me If it's not yours
As we become one
Through and through
I dedicate all my life To loving you…

To have and to hold
While passions unfold
I promise a life you won't regret
For better or worse
No one can reverse the way that I've felt since we met
You ain't seen nothing yet

( I do – Boys II Men )

Suasana pernikahan terasa syahdu dan penuh haru. Sang pengantin wanita berbalut gaun putih dengan bandana kristal sederhana itu duduk diatas kursi roda. Keadaan itu tak mampu melenyapkan aura kecantikan Joohyun. Terlebih di mata Yonghwa yang kala itu berdiri menatap Joohyun dengan penuh haru. Akhirnya, dia berdiri disana. Melihat malaikatnya begitu bersinar dengan balutan gaun pengantin.

Bidadari itu kini sedang di antar sang ayah kearahnya. Tidak seperti pengantin wanita lainnya, yang menggandeng tangan ayahnya menuju tempat pengantin pria berdiri. Seo Joohyun harus di dorong sang ayah dengan kursi rodanya. Sebelum menyerahkan putri kesayangannya ketangan laki-laki yang akan menjadi suaminya, Joohyun Appa menjabat tangan menantunya sambil menatapnya dengan tatapan haru kemudian berkata....

"Kuserahkan hartaku yang paling berharga padamu, Nak! Dia satu-satunya kekayaan yang aku miliki. Meski dia bukan gadis yang sempurna, terlebih dengan keadaanya kini, tapi kumohon jagalah dia dengan segenap cintamu. Aku tak sedikitpun meragukan cintamu pada putriku, Adeul! Berbahagialah kalian berdua."

Lalu laki-laki setengah baya itu menyerahkan tangan Joohyun pada Yonghwa. Yonghwa mengulurkan tangannya lalu Joohyun menyambutnya. "Dengan seluruh jiwa raga saya akan melakukan segalanya untuk membahagiakan Joohyun, Abbonim! Saya berjanji tak akan pernah lagi melukainya."

Ayah Joohyun lalu tersenyum sambil menyeka air mata harunya. Begitulah janji suci itu mereka ucapkan. Sangat berbeda dengan suasana foto wedding mereka saat dulu menjalani program WGM yang dipenuhi senyum dan gelak tawa. Kali ini, suasana terasa pilu. Meski demikian, warna bahagia tampak jelas dalam binar mata mereka. Pada akhirnya perjuangan mereka berbuah manis. Meski satu cobaan lagi harus mereka jalani, tak apa.. karena kini tangan mereka saling berpegangan. Mereka akan menghadapinya bersama. Yonghwa tak keberatan bila seumur hidupnya dia harus menjaga Joohyun dalam keadaan seperti ini. Itu ribuan kali lebih baik daripada harus terjaga tanpanya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar