Mid Summer Story...
Author : Jingga8
Main Cast : Jung Yonghwa, Seo Joohyun, CNBLUE, SNSD
Genre : Romance
Rating : T
Chaptered
Chapter 18
Would You Marry Me,
Angel….
Senja itu, angin bertiup lembut. Taman
kecil berhiaskan white lily dan mawar putih ini akan menjadi saksi ketika
perjalan panjang mereka berakhir dengan sebuah janji suci untuk menjalani babak
baru perjalanan mereka yang lain. Akhirnya, setelah badai pergi, langit pun
membiru menampakan pelangi. Ya… hari ini… Yonghwa akan menggenggam tangan
Joohyun-nya dan tak akan pernah melepasnya lagi untuk selamanya. Tiba saatnya
cinta itu berlabuh dan menetap dihati pemiliknya. Hanya untuk Joohyun-nya. Selamanya…
Pernikahan mereka di gelar
sederhana dengan dihadiri orang-orang terdekat saja. Hanya SNSD, CNBLUE,
keluarga inti keduanya, sahabat dekat dan
beberapa rekan satu agency, manager keduanya dan owner dari agency
tempat mereka bekerja tentunya. Dengan berbagai syarat, Yonghwa akhirnya di
ijinkan untuk menikahi Joohyun 'sekali lagi' yang kali ini dengan pernikahan
sebenarnya. Banyak hal positif yang terjadi pasca kecelakaan yang minimpa Seo
Joohyun. Dukukangan publik pun meningkat drastis ketika Yongwa dengan sabar dan
setia menemani Joohyun selama dia dalam masa perawatan. Terlebih dengan kondisi
Joohyun seperti saat ini.
Ya… setelah sadarkan diri,
Joohyun mengalami kelumpuhan yang membuatnya tak dapat begerak apalagi
berjalan. Dokter mengatakan bahwa kondisi ini merupakan efek dari pendarahan
pada otaknya saat kecelakaan itu. Tapi dengan terapi dan rehabilitasi, Joohyun
di beri harapan bahwa dirinya bisa sembuh dan beraktifitas normal kembali
seperti sebelumnya. Meski kemungkinannya kecil. Situasi yang cukup membuat
Joohyun terpukul dan kehilangan semangat hidup. Cobaan demi cobaan sepertinya
belum berhenti menempa hidup mereka.
Saat itu tidak terpikir lagi
tentang eksistensinya bersama SNSD. Menyadari dirinya bahkan tak mampu bangkit
dan duduk sendiri pun sudah menjadi pukulan besar dalam hidupnya. Dan kini,
gadis mandiri itu harus bergantung pada bantuan orang lain. Joohyun merasa
dunianya sudah berganti. Sinar dirinya telah padam. Dirinya tak lebih dari
seorang parasit yang akan bergantung dan menyusahkan banyak orang. Dan di satu
senja....
Satu bulan sebelumnya…..
"Hey... baby, are you wake
up?" Yonghwa tiba-tiba muncul di balik pintu dan mendapati Hyun-nya sedang
terbangun menatap jendela dari tempat tidurnya.
"Hhmm! Wae, Oppa?"
Joohyun menoleh kearah Yonghwa tanpa bisa melakukan apa2. Saat ini, hanya
gerakan kecil yang mampu dia lakukan. Seperti menoleh, menggerakan jemari dan membolak
balikan telapan tangannya. Sisanya, dia membutuhkan bantuan dari orang lain.
"Ada sesuatu yang ingin aku
tunjukkan padamu. Lets go... ikut denganku!" Yonghwa berjalan mendekati
tempat tidur Joohyun dan bermaksud membantunya bangun dan duduk di kursi
rodanya.
"Mwo? Eodie ga?"
Joohyun tampak bingung dengan ajakan tiba-tiba ini. Terlebih karena hari telah
senja dan sebentar lagi langit akan berganti malam.
"Bimil!! Geuman
darawaaa...!!" Yonghwa mengibarkan senyum termanisnya seraya membopong
tubuh Joohyun lalu menempatkannya di kursi roda. Tak lupa dia menutup kaki
gadisnya dengan selimut.
"Geurae... Kajjaa, My Angel….!!"
Dengan penuh semangat, Yonghwa mendorong kursi roda Joohyun keluar dari ruangan
itu.
Tidak membutuhkan waktu lama
untuknya sampai ditempat yang dia tuju. Tempat itu tepat berada di belakang
rumah sakit. Sebuah taman terbuka yang menghadap pantai. Rona jingga mulai
tampak dilangit berbalut dengan awan keemasan. Andai saja gadis dihadapannya
tidak sedang duduk diatas kursi roda ini, senja ini akan menjadi moment paling
sempurna untuknya. Tapi biarlah... betapapun Yonghwa tetap mensyukurinya.
"Here we are....! Eotthae,
Joohyun ah? Neomu yippo, geurotji?" Yonghwa dengan bangga menunjukkan
tempat itu pada gadisnya.
"Whooaa... jinjja
yippojanaa...!" Seketika Joohyun tersihir dengan pesona sunset di
hadapannya.
"Apa kau masih ingat, 7
lalu... tepat di hadapan sunset yang sama, kita memulai lagi kisah kita?"
Keduanya kini terduduk mengahadap
pantai. Angin laut menyapu wajah mereka dengan lembut dan mengibaskan aroma
kerinduan yang sama. Joohyun tersenyum pahit, saat satu persatu kenangan itu
hadir dalam benaknya.
"Tentu saja aku
mengingatnya, Oppa. Senja itu... tampak sama dengan senja hari ini. Hanya saja,
kita berada di tempat yang berbeda. Dan aku kini harus duduk di atas kursi
menyedihkan ini." Joohyun menundukkan wajah sendunya. Mendengarnya,
Yonghwa lantas bangkit dari duduknya dan kini dia berlutut di hadapan Joohyun.
"Ssshh... sayang... jangan
bilang begitu. Mungkin kau benar, kita kini berada di tempat yang berbeda. Dan
memang benar bahwa kini kau harus duduk di atas kursi roda ini. But honey....
for me you're still the same. Dimataku kau tetap malaikat dengan pesona tak
tergantikan. Kau tetap bintang dengan cahaya paling terang. Seo Joohyun...
dimataku tetaplah gadis yang sama. Seseorang tempatku menitipkan mimpi dan
kebahagiaanku. Kau... tetap menjadi satu-satunya alasan yang membuatku ingin
menjadi lelaki yang baik. Lelaki yang pantas untuk menjadi suamimu, dan ayah
untuk anak-anakmu."
Sejenak, hening menjelma. Yonghwa
menyentuh wajah malaikatnya dengan lembut. Joohyun hanya menatap Yonghwa-nya
dengan tatapan haru penuh tanya. Dan Yonghwa membalas tatapan itu dengan penuh
cinta. Kata-kata Yonghwa barusan seperti lulaby yang merdu di telinganya.
Hingga dia kehabisan kata untuk diucapkan dan hanya terpaku dan membisu.
"Seo Joohyun, aku tahu...
aku bukan lelaki yang sempurna. Selama kita bersama, tidak banyak yang pernah
aku lalukan untuk membuat bahagia. Bahkan terakhir kali, aku pergi dengan
memberimu bekas luka. Maafkan aku, Joohyun ah. Meski aku menyadari betapa tidak
pantasnya aku... Meski aku tahu bahwa kesalahan yang kulakukan padamu itu tak akan
termaafkan... Meski aku tahu, seberapa besarnya pun yang aku lakukan untukmu,
takan pernah bisa menebus setiap rasa sakit yang kau alami kini... tapi demi Tuhan,
Joohyun ah! Aku tetap tidak mampu hidup tanpamu.
Aku tahu, betapa tidak tahu
dirinya aku mengatakan ini. Hyun.... seandainya aku mampu mengambil semua
penderitaanmu saat ini dan menempatkanku ditempat yang kau duduki kini... Aku
rela, Sayang. Aku ingin memberikan kakiku, tanganku, tubuhku dan semua milikku
untuk bisa melihatmu kembali tersenyum. "
Kali ini, Yonghwa menatap Joohyun
lebih dalam. Seiring air mata yang jatuh dari kedua matanya, Yonghwa ingin
Joohyun percaya bahwa saat ini yang dia katakan adalah tulus adanya.
"Geurogae, Seo Joohyun...
tolong ijinkan aku menjadi kakimu. Ijinkan aku menjadi tanganmu. Ijinkan aku
menjadi tubuhmu. Ijinkan aku berbagi hidupku untuk menjadi bagian dalam
hidupmu.
Nae Sarang Bit, Narang gyeoronae
julhae?"
Seo Joohyun terdiam dalam
keterkejutannya. Tubuhnya memang tak mampu memberi reaksi apapun. Tapi matanya
berbicara. Dimata sebening embun itu kini tergenang buliran air yang siap
mengalir hanya dalam satu kedipan saja.
"Seo Joohyun... maukah kau
berbagi waktu dan sisa hidupmu denganku? Menjadi ibu yang melahirkan
anak-anakku? Menjadi sahabat sejatiku yang akan berjalan disisiku mengarungi
waktu?"
"Op..paa...!"
"Jebbal... Hyun! Beri aku
kesempatan..." Suaranya kian lirih terdengar.
"Oppa... aku... aku
benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Aku...
Oppa, Tuhan tahu betapa bahagianya
aku mendengar kata-katamu. Bagaimana tidak? Setiap kata-kata yang kau ucapkan
bagaikan mimpi yang jadi kenyataan. Aku memimpikan hari seperti ini akan tiba
dan Oppa adalah pangerannya.
Geunyang, Oppa... lihatlah aku
sekarang. Aku bukan lagi Joohyun yang dulu kau kenal. Jangankan untuk
menemanimu berjalan, menggerakan kakiku pun aku tak bisa. Jangankan melahirkan
anak-anak mu, mengangkat tanganku pun aku tak mampu.
Oppa, perjalananmu masih panjang.
Jangan sia-siakan sinarmu hanya demi untuk bersamaku. Aku percaya cinta dan
ketulusanmu. Tapi... bukan aku, Oppa! Bukan aku yang seharusnya bersamamu."
Rasanya seperti teriris, saat Joohyun terpaksa mengatakan kata-kata itu pada
lelaki dihadapannya. Ingin sekali dia menjerit sekerasnya meluapkan betapa
tidak adilnya hidup ini untuknya.
"Aniya.. Hyun...! Ani!!! Jika
bukan kamu lalu siapa? Bila memang ada perempuan lain yang lebih bisa membuatku
bahagia, harusnya sudah sejak dulu aku bersamanya. Bila memang ada perempuan
yang bisa membuatku berpaling, maka selama 6 bulan ini aku tak harus menderita
karena rasa rinduku padamu.
Seo Joohyun, dengarkan aku....
Denganmu, atau tidak dengan
siapapun. Menjadi milikmu, atau menjalani sisa waktuku seorang diri. Hanya itu
pilihan hidupku.
Geurokhae, jebbal... menikahlah
denganku...." Sekali lagi Joohyun menetap lekat wajah Yonghwa. Inin sekali
tangannya meraih wajah itu dan mengusap air matanya. Tapi lihatlah… bahkan hal
kecil seperti itupun tak mampu dilakukannya.
“Kau akan sangat lelah, Oppa. Apa
yang akan kau lakukan dengan gadis menyedihkan sepertiku? Hidup seperti apa
yang akan kau jalani dengan menikahi perempuan seperti aku? Aku tidak pernah
ingin membagi semua ini dengamu dan merenggut sinarmu dari hidupmu. Seperti halnya
dulu kau yang tak ingin menjadi sisi gelap dalam hidupmu, kini aku pun sama. Aku
mencintaimu, Oppa… dan menginginkanmu lebih dari apapun. Tuhan tahu itu. Tapi aku
tidak akan tega mengikatmu dan menjadi beban bagimu.”
“Seo Joohyun, bahkan hingga kini
pun kau masih saja keras kepala. Tsk… terserah apapun yang kau katakan. Aku akan
tetap menyeretmu ke pelaminan. Kau tidak bisa melawanku, bukan? Apalagi berlari
dariku. And here….” Yonghwa mengeluarkan sebuah kotak kecil berpita biru. Lalu memasangkan
cincin yang berada di dalamnya di jari manis Joohyun. Joohyun terperanjak saat
cincin itu terpasang dengan cantik di jarinya.
“Oppa…. Igae…”
“Wae? Shiro? Kau tidak ingin memakainya
lagi?” Sebetulnya, itu adalah cincin yang sama yang mereka pakai di WGM.
Yonghwa menyimpannya mengingat saat itu tidak memungkinkan bagi mereka untuk
memakainya. Bisa menjadi scandal besar bila fans melihat cincin itu melingkar
di jari mereka.
“Tapi…. Cincin ini kaaan…. Aku yang
membelinya, Oppa. Masa kau melamarku dengan cincin yang kubeli sendiri?”
Joohyun mengerutkan bibirnya dan wajah inosen itu kembali hadir di sana. Mendengar
semua itu, Yonghwa sontak terkekeh. Joohyun-nya… benar-benar…
“Mwo? Yaah… Seo Joohyun.. noel
jinjja…!” Dengan senyum bahagianya, Yonghwa kembali menatap lekat mata
bidadarinya. Perlahan… dia mulai mendekatkan wajahnya pada gadis dihadapannya. Sebuah
kecupan kembali berlabuh dibibirnya. Lembut, hangat, manis, rindu, pilu, haru,
bahagia, semua rasa yang sudah selayaknya ada kala itu. Rasanya tak ingin
melepasnya. Selamanya Yonghwa ingin menikmati manisnya strawberry lewat bibir
ini. Tak akan pernah membiarkannya dimiliki siapapun. Hanya untuknya. Hanya miliknya.
Mentari mulai terbenam, dan
Yonghwa masih enggan melepaskan kecupannya dari bibir Joohyun. Kerinduan ini
sepertinya tidak akan pernah terbayar meski dia menciumnya sepanjang hidupnya.
“Gomawo, Joohyun… ah! Neomu gomawoseo…
” Dengan lembut, Yonghwa mengusap bibir Joohyun sebelum akhirnya dia mengecupnya
lagi.
“Terima kasih untuk apa?” Joohyun
menampakkan raut wajah khas nya. Spontan membuat Yonghwa mengerutkan keningnya.
“Untuk…. Menerimaku…” Dengan
gugup Yonghwa menjawabnya.
“Seingatku, aku tidak mengatakan
iya, Oppa…” Lagi-lagi dengan wajah polosnya Joohyun membuat Yonghwa semakin
frustasi.
“Eii?? Seo Joohyun… apa maksudmu?”
“Aku bilang, aku tidak mengatakan
iya padamu, Oppa. Jadi untuk apa kau berterima kasih?”
“Y-yaa.. Yakkk… Soe Joohyun!!!! Lalu
kenapa kau menciumku barusan?”
“Mwo? Siapa yang menciummu? Bibirmu
yang mengahampiri bibirku? Bagaimana bisa itu kau bilang aku yang menciummu?”
“Ya.. ta.. tapi kau membalasnya
kan? Kau membalas ciumanku. Dan itu artinya kau setuju…” Yonghwa menjadi gusar
dibuatnya. Joohyun menahan tawa sekuatnya.
“Mwo? Ya… Oppa… kau lupa, bahwa
kau bukan satu-satunya lelaki yang pernah menciumku. Terakhir kali dalam film
ku aku mencium TOP Oppa. Apakah itu berarti aku menyukinya dan menerima
cintanya?”
“Eiii? Yaakk… kenapa kau membahas
ciumanmu di film dalam situasi ini? Ya Tuhan, Seo Joohyun… kau sedang pamer
yah?” Sudah, Joohyun sudah tak tahan lagi. Dia pun akhirnya melepaksan tawanya.
Melihat betapa tampak bodohnya Jung Yonghwa dengan kata-katanya.
“Phabo, Jung!!!” Celotehnya.
“Yaa… kau memermainkanku, Seo
Joohyun!!! Geurae!! Suka atau tidak suka, kau adalah milikku. Dan aku akan
menjadi satu-satu pria yang boleh menciummu. Ahratji?” Joohyun tersenyum dalam
sisa tawanya, lalu menganggukkan kepalanya. Yonghwa pun akhirnya ikut tertawa
bersamanya.
“Tapi Oppa…. Hhhmm… benarkah
hanya cincin ini?” Sekali lagi Joohyun membuat lelaki ini terbelalak.
“Ya Tuhan… aku sudah tahu bahwa
kau akan seperti ini. Hhhh…! Ahrasso… ahrasso… here…” Yonghwa mengeluarkan satu
kotak lagi dalam saku jaketnya. Kali ini lebih besar dari kotak sebelumnya. Dan
kini giliran Joohyun yang membelalakan matanya begitu kotak itu terbuka. Sebuah
cincin dengan mata saphire berbentuk hati. Disisi-sisinya melingkar
berlian-berlian kecil yang mebuat cincin itu tampak begitu indah. Selain itu
juga ada kalung dengan mata dan bentuk yang sama. Joohyun benar-benar tersihir
karenanya.
“Eotthae? Jeohwa?” Yonghwa
meledeknya.
“Neomu Yippoda… Oppa…” Joohyun
tersenyum takjub.
“Tentu saja cantik. Untuk malaikat
sepertimu, aku harus memilihkan yang tercantik. Meski aku tahu, didunia ini
tidak akan pernah bisa aku temui yang lebih cantik darimu. Kau pantas
mendapatkan segalanya, Joohyun ah. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu
bahagia.” Kali ini, suasana syahdu itu kembali. Yonghwa memakaikan cincin itu
di jari manis tangan kanan Joohyun. Lalu menyusul setelahnya dia pasangkan
kalung itu di lehernya. Benar-benar terlihat sempurna dimatanya. Joohyun-nya
benar-benar cantik memakainya.
“Aku bersedia, Oppa….” Akhirnya…
dengan senyum terindahnya, Joohyun mengatakan itu.
“Aishh… Seo Joohyun…!!” Sekali
lagi Yonghwa mengecup bibir gadisnya. Tidak sampai disitu, kali ini dia
mengangkat tubuh Joohyun dan membawanya ketepi pantai. Dibawah senja temaram,
mereka tertawa. Yonghwa membawa tubuh Joohyun dipangkuannya berputar berkali
membuat Joohyun berteriak.
Tapi mereka benar-benar bahagia. Mereka
sangat bahagia.
I'm telling the world
Here and now
That I'm gonna love you and love you
I take this vow yeeaah
You captured my heart
So long ago
Still there are some critical things
That you should know
Do I give all I am
To be now and forever you man
Do I take you to be
Without question the woman for me
Do I promise you
I Do
Do I promise you
I do, I do
This love has been worth waiting for
Cause love doesn't matter to me If it's not yours
As we become one
Through and through
I dedicate all my life To loving you…
Here and now
That I'm gonna love you and love you
I take this vow yeeaah
You captured my heart
So long ago
Still there are some critical things
That you should know
Do I give all I am
To be now and forever you man
Do I take you to be
Without question the woman for me
Do I promise you
I Do
Do I promise you
I do, I do
This love has been worth waiting for
Cause love doesn't matter to me If it's not yours
As we become one
Through and through
I dedicate all my life To loving you…
To have and to hold
While passions unfold
I promise a life you won't regret
For better or worse
No one can reverse the way that I've felt since we met
While passions unfold
I promise a life you won't regret
For better or worse
No one can reverse the way that I've felt since we met
You ain't seen
nothing yet
( I do – Boys II Men )
( I do – Boys II Men )
Suasana pernikahan terasa syahdu
dan penuh haru. Sang pengantin wanita berbalut gaun putih dengan bandana
kristal sederhana itu duduk diatas kursi roda. Keadaan itu tak mampu
melenyapkan aura kecantikan Joohyun. Terlebih di mata Yonghwa yang kala itu
berdiri menatap Joohyun dengan penuh haru. Akhirnya, dia berdiri disana. Melihat
malaikatnya begitu bersinar dengan balutan gaun pengantin.
Bidadari itu kini sedang di antar
sang ayah kearahnya. Tidak seperti pengantin wanita lainnya, yang menggandeng
tangan ayahnya menuju tempat pengantin pria berdiri. Seo Joohyun harus di
dorong sang ayah dengan kursi rodanya. Sebelum menyerahkan putri kesayangannya
ketangan laki-laki yang akan menjadi suaminya, Joohyun Appa menjabat tangan
menantunya sambil menatapnya dengan tatapan haru kemudian berkata....
"Kuserahkan hartaku yang
paling berharga padamu, Nak! Dia satu-satunya kekayaan yang aku miliki. Meski
dia bukan gadis yang sempurna, terlebih dengan keadaanya kini, tapi kumohon
jagalah dia dengan segenap cintamu. Aku tak sedikitpun meragukan cintamu pada
putriku, Adeul! Berbahagialah kalian berdua."
Lalu laki-laki setengah baya itu
menyerahkan tangan Joohyun pada Yonghwa. Yonghwa mengulurkan tangannya lalu
Joohyun menyambutnya. "Dengan seluruh jiwa raga saya akan melakukan
segalanya untuk membahagiakan Joohyun, Abbonim! Saya berjanji tak akan pernah
lagi melukainya."
Ayah Joohyun lalu tersenyum
sambil menyeka air mata harunya. Begitulah janji suci itu mereka ucapkan.
Sangat berbeda dengan suasana foto wedding mereka saat dulu menjalani program
WGM yang dipenuhi senyum dan gelak tawa. Kali ini, suasana terasa pilu. Meski
demikian, warna bahagia tampak jelas dalam binar mata mereka. Pada akhirnya
perjuangan mereka berbuah manis. Meski satu cobaan lagi harus mereka jalani,
tak apa.. karena kini tangan mereka saling berpegangan. Mereka akan
menghadapinya bersama. Yonghwa tak keberatan bila seumur hidupnya dia harus menjaga
Joohyun dalam keadaan seperti ini. Itu ribuan kali lebih baik daripada harus
terjaga tanpanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar